Friday, February 19, 2010

Pengelolaan Asma Harus Komprehensif

Saat ini, pengelolaan asma menggunakan pedoman pengobatan yang dikeluarkan GINA/WHO (Global Initiative for Asthma/World Health Organization). Dalam pedoman ini terdapat enam langkah praktis mengendalikan asma, yaitu edukasi penderita untuk menjadikan mitra dalam pengobatan asmanya, menilai berat ringannya penyakit dan memantaunya dengan pemeriksaan fungsi paru, menghindarkan faktor pencetus, merencanakan pengobatan jangka panjang, merencanakan pengobatan bila terjadi serangan akut, dan memeriksakan diri secara teratur. Kalangan kedokteran spesialis paru Indonesia yang tergabung dalam Yayasan Asma Indonesia (YAI) menambahkan satu langkah lagi, yaitu meningkatkan kebugaran fisik dengan olahraga. Program pengelolaan asma, baik pola penyakit asma yang bersifat fluktuatif maupun individual, memerlukan penangan yang komprehensif. Peran serta aktif penyandang asma dan keluarganya serta dokter yang menanganinya sangat diperlukan.

Farmakoterapi

Obat-obatan dalam pengelolaan asma, di samping jenisnya, perlu diperhatikan juga bentuk obat dan cara pemakaiannya. Penggunaan obat-obatan yang tidak tepat, tidak akan mendapat manfaat yang maksimal, malah dapat terjadi efek samping bila kelebihan dosis. Sebaliknya, bila dosis obat di bawah dosis yang dibutuhkan, dapat memberikan efek terapi yang kurang: tujuan pengobatan tidak terjadi, asma tidak terkontrol, dan derajat asma dapat bertambah berat.

"Dalam menggunakan obat-obatan asma harus diperhatikan jenis obat (cara kerja obat), relievier atau controller. Selain itu, yang perlu diperhatikan adalah lama kerja obat (kerja pendek atau kerja panjang), dosis (setiap orang berbeda), efek samping dan manfaatnya, serta cara pakai obat (oral, injeksi atau inhalasi)," ungkap Paramita, lulusan dokter spesialis paru FKUI, Jakarta.

Menurut Koordinator Pusat YAI ini, obat utama yang diperlukan dalam pengelolaan asma mempunyai cara kerja quick relieve ( pelega nafas) dan controller (pencegah serangan). Obat lain yang dapat mempercepat penyembuhan serangan asma adalah obat pengecer dahak (Fluimucil dan Bisolvon), obat penlacar dahak (OBH), dan antibiotik (golongan amoksilin, quinolon, sefalosporin, makrolid, dll). Penggunaan antibiotik ini, diberikan bila penderita kena serangan asma disertai infeksi kuman.

Obat Pelega Nafas

Obat pelega nafas (quick reliever), memberikan efek melegakan pernafasan. Karena obat ini berfungsi melebarkan saluran nafas yang disebut bronkus sehingga disebut sebagai bronkodilator. Efek melegakan pernafasan dapat dirasakan dengan segera bila dipakai obat berbentuk inhalasi (obat semprot atau obat sedot). Tapi, ada juga bronkodilator yang mempunyai efek panjang, maksudnya bila menggunakan obat tersebut, efek melegakan nafas dapat berlangsung lama meskipun rasa lega nafas tersebut tidak segera timbulnya. Lama kerja obat harus diperhatikan untuk memilih obat lebih tepat dan mengenai sasaran, untuk segera melegakan nafas atau untuk mempertahankan lega nafas yang sudah ada.

Bronkodilator ada beberapa jenis menurut tempat kerjanya. Artinya, tempat kerja masing-masing bronkodilator itu berbeda sehingga kadang-kadang dokter memberikan bronkodilator dapat lebih dari satu macam. Hal ini ditujukan agar efek pelebaran saluran nafas dapat maksimal.

Ada tiga macam bronkodilator sesuai tempat kerjanya. Pertama, golongan beta2gonis, misalnya ventolin, bricasma, berotec, meptin. Kedua, golongan xantin, misalnya teofillin, aminofillin, quibron, euphillin, unidur. Ketiga, golongan antikolinnergik, misalnya, atrovent.

Obat Pencegah Serangan

Obat pencegah serangan disebut juga sebagai controller. Obat ini digunakan dalam waktu lama, berfungsi menekan inflamasi pada saluran nafas. Dengan menggunakan obat golongan ini secara teratur, inflamasi bronkus seseorang akan berkurang, hipersensitif juga berkurang, sehingga serangan asma menjadi jarang dan gangguan aktivitas karena asma tidak dijumpai lagi. Yang termasuk obat controller, antara lain, golongan steroid, sodium kromoglikat, dan anti leukotrien.

Obat golongan steroid digunakan untuk menekan inflamasi dan hipereaktiviti bronkus. Digunakan dalam waktu lama, karena itu bentuk obat yang tepat adalah bentuk semprot (inhalasi) atau sedot. Obat golongan steroid bila digunakan melalui oral (tablet) dalam waktu lama dapat menimbulkan efek samping yang berbahaya, tetapi manfaat obat ini sebagai controller sangat baik. Oleh karena, obat golongan steroid yang digunakan sebagai obat pengontrol asma, pilihan terbaik adalah bentuk inhalasi (bentuk semprot atau sedot).

Golongan steroid sebagi pengontrol asma digunakan pada derajat asma sedang dan berat. Dengan menggunakan pengontrol asma jenis ini, serangan asma menjadi berkurang dan bila terjadi serangan mudah diatasi dan aktivitas tidak terganggu. Inilah yang disebut "asma terkontrol" yang merupakan tujuan dari pengobatan asma. Obat golongan ini yang ada di Indonesia, antara lain, Pulmicort, Flexotide, dan Inflamid.

Obat golongan sodium kromoglikat sebagai pengontrol asma manfaatnya kurang kuat. Biasanya digunakan pada asma ringan atau bila asma derajat berat dapat digunakan bersama-sama golongan steroid. Golongan obat ini yang ada di Indonesia adalah Intal dan Tilade.

Golongan antiluekotrien merupakan obat baru dalam golongan obat pengontrol asma. Obat ini cukup aman digunakan dalam bentuk oral (tablet). Obat ini juga berfungsi sebagai pengontrol asma, menekan inflamasi agar serangan asma menjadi jarang. Di Indonesia obat ini baru dipasarkan dengan nama Accolate dan berisi antileukotrien golongan zafirlukast.

Lama Kerja Obat

Lama kerja satu macam obat harus diketahui pemakainya. Hal ini diperlukan untuk dapat mengulang penggunaan obat dengan aman, mendapatkan efek maksimal obat atau untuk menghindari efek sampingnya. Setiap macam obat mempunyai lama kerja yang berbeda.

Bila mengetahui dan memahami berapa lama kerja obat yang dipakai: dapat mengatur penggunaan obat dengan lebih baik, dapat diperkirakan berapa lama obat ini akan bermanfaat, atau kapan obat ini sudah habis efeknya dan harus diulang kembali. Untuk obat yang termasuk golongan bronkodilator, mengetahui lama kerja obat sangat penting untuk mempertahankan nafas selalu tetap lega, sambil menunggu obat lain bekerja meredakan infeksi atau inflamasi yang terjadi.

Dosis

Setiap obat mempunyai dosis tertentu (dosis optimal) untuk dapat bermanfaat dalam pengobatan. Di bawah dosis tersebut, obat tidak memberikan manfaat. Sebaliknya, lebih besar dari dosis tersebut, dapat menimbulkan efek samping yang sangat berbahaya, apalagi bila digunakan dalam jangka waktu lama.

Untuk menghindari dosis di bawah standar, dokter memberikan obat dengan dosis yang biasa digunakan. Diharapkan penderita asma melakukan evaluasi sendiri terhadap timbulnya tanda-tanda kelebihan dosis. Bila terjadi gejala tersebut, jangan cemas. Minumlah air putih yang banyak dan pada penggunaan obat berikutnya, kurangi obat sesuai dosis yang dianjurkan dokter. Tanyakan dengan jelas kepada dokter, seberapa banyak dosis yang harus dikurangi.

Harus tetap diingat, penggunaan obat di bawah dosis yang diperlukan dapat menyebabkan asma tidak terkontrol dan derajat asma bertambah berat.

Efek Samping

Efek samping obat berbeda untuk setiap macam obat. Obat golongan bronkodilator, efek sampingnya, antara lain, berdebar, gemetar, lemas, nyeri perut, mual dan muntah. Obat golongan steroid bila digunakan melalui oral dan digunakan dalam waktu lama dapat menimbulkan nyeri perut, mual, muntah, meningkatkan gula darah bagi penderita kencing manis, dan keropos tulang.

Efek samping obat timbul, bila penggunaannya tidak tepat. Misalnya, waktu lebih cepat dari lama kerja obat, dosisnya yang berlebihan atau menggunakan dua macam obat dari golongan yang sama, misalnya bricasma dengan ventolin.

Sebaliknya, ketakutan efek samping obat dengan cara mengurangi dosis obat atau menjarangkan penggunaannya adalah tindakan yang tidak tepat, tujuan pengobatan tidak tercapai, memperberat penyakit, derajat asma bertambah. Derajat asma yang tadinya ringan dapat berubah menjadi sedang dan yang sedang dapat menjadi berat, asma dapat menjadi tidak terkontrol, dan aktivitas sehari-hari akan terganggu.

Penggunaan obat secara secara inhalasi, mengurangi efek samping obat karena dosisnya kecil (dalam mikrogram) dan langsung memberikan manfaat karena langsung ke lokasi yang terganggu, yaitu saluran nafas (bronkus).

Obat yang digunakan melalui oral, masuk ke lambung dan diserap oleh pembuluh darah untuk diedarkan ke seluruh tubuh, termasuk ke bronkus. Terkumpulnya obat di lambung seringkali menyebabkan produksi asam lambung meningkat dan menyebabkan rasa nyeri serta mual dan muntah.

Cara Pakai

Cara pakai obat sangat penting diperhatikan, terutama untuk obat dalam bentuk inhalasi. Bagaimana obat sedot atau obat semprot harus digunakan, apakah sudah tepat benar atau belum. Karena itu, diperlukan koordinasi gerakan yang baik pada waktu menggunakan obat semprot atau kekuatan yang cukup bila menggunakan obat sedot. Pemilihan bentuk obat yang cocok untuk setiap penderita harus dikomunikasikan dengan dokter.

Beberapa bentuk obat inhalasi, misalnya inhaler, turbohaler, atau rotadisk. Beberapa alat bantu obat inhalasi, seperti nebuhaler atau nebuliser.


Dr Zubaedah Thabrani, Sp.P dan Dr Pradjnaparamita, Sp.P,

No comments: